Pages

21 February 2005

Pemikiran terhadap pernyataan Sekretaris MUI

Yth Bapak Din Syamsudin dan fungsionaris MUI terkait

Sebelum tulisan ini saya lanjutkan, saya himbau pada siapapun yang kebetulan mampir dan membaca tulisan ini agar sejenak berdoa dulu kepada Tuhan YME agar diberi penerangan mata batin dan akal dan dijauhkan dari bisikan setan yang hendak memanipulasi diri kita. Saya sendiri sempat merenung lama dan meminta petunjuk Tuhan agar tulisan saya ini tidak tendensius namun semata menyuarakan kebenaran.

Dari pemberitaan salah satu stasiun TV swasta Indonesia pada sekitar minggu ke-2 Januari 2005, ada sebuah statement dari sekretaris MUI yang kurang lebih isinya sbb (mari berdoa ingatan saya masih segar) "kami mensinyalir ada sebuah kelompok fundamentalis Kristen yang hendak mengadopsi anak-anak Aceh dan memurtadkan mereka......" Sekarang mari kita kupas isi kalimat yang sederhana namun penuh makna ini

1. Kata mensinyalir selalu logikanya disertai bukti-bukti konkret atas dugaan yang dilontarkan. Tapi sampai detik ini sinyalemen hanya tinggal sinyalemen. Dengan demikian, sinyalemen ini hanya diam di tempat alias hanya jadi issue.

2. Dalam segmentasi Kristen, saya tidak melihat dan tidak ada literatur yang menyebutkan bahwa aliran ini fundamentalis, yang lainnya modern, dst dst. Kalau yang dimaksud fundamentalis disini adalah aliran yang masih asli bersandar pada Injil atau Alkitab, maka semua aliran Kristen dan Katolik pada hakekatnya adalah fundamentalis. Jika yang dimaksud adalah Kristen Ortodoks, maka benar, memang ada aliran itu.

3. Mengadopsi anak Aceh yang kesusahan dan ditimpa musibah saya kira adalah hak dan kewajiban semua orang, jadi tidak ada komentar lebih lanjut soal ini

4. Murtad..... ok. Saya akan menyitir salah satu kutipan Al Quran atas sabda Allah(maaf, saya bukan Muslim, tp semoga saya pas mencupliknya), ayat ini memang hendak mengutarakan maksud yang lain, tp ada kalimat yang sangat baik untuk direnungkan "...dan hendaknya menjadi tanda bagi kaum yang berpikir". Dari ayat ini jelas, Tuhan menghendaki ciptan Nya (manusia) berpikir sejernih mungkin dan selebar mungkin. Menyebut kata "murtad" adalah suatu tuduhan serius. Saya kira, lebih serius dari tuduhan yang diarahkan ke Polycarpus sehubungan dengan racun arsenik dalam tubuh Almarhum Munir.

Sehubungan nomer 4 diatas, saya mencoba diskusikan hal ini dengan beberapa rekan, baik yang seagama dan yang tidak seagama.

berikut tanggapan dari rekan muslim:
"itu suatu reaksi karena belakangan dunia memojokkan kaum muslim....tolonglah dimengerti...."

tanggapan saya: Saya pribadi berani mengatakan bisa mengerti, tapi tidak semua orang bisa dijamin mengerti. Nah kalo yang tidak mengerti implikasinya apa? masih untung kalo cuma dongkol dalam hati...kalau merencanakan pembalasan secara diam-diam bagaimana? Nanti saling menyerang...kalau udah saling menyerang? ujung-ujungnya yang susah rakyat kecil. Udah kejepit, ditambah harus menonton tonjok-tonjokan antar umat beragama.

tanggapan dari umat katolik dan kristen tidak saya cuplik disini, karena terlalu keras menurut saya. Tapi pada intinya mereka menyesalkan ucapan Bpk Din Syamsudin.

tanggapan umat Buddha sempat saya tangkap, intinya ada satu kenalan saya yang agak bingung dengan maksud statement Bpk Din. Masih untung cuma bingung......

Saya pribadi mengharap, sehubungan dengan no.4 diatas, sudilah kiranya Bpk Din memikirkan ulang implikasi kata-kata "murtad". Sebagai sesama umat beragama, saya kira niatan mengalihkan iman apalagi pada saudara-saudara yang ditimpa musibah sangatlah kecil, boleh saya katakan nol. Jika ada niat menolong, itu semata-mata saya kira justru perwujudan solidaritas yang didorong rasa prihatin. Itu juga jadi sarana untuk menambah amalan sekaligus mengurangi dosa-dosa yang kita perbuat. Saya kuatir, jika Bpk Din tidak mengklarifikasikan ucapannya, beliau ganti akan ditimpakan dosa-dosa orang yang sudah sudi menolong itu. Apa Bpk siap di set sebagai container dosa? Segeralah minta ampun pada Allah sebelum terlambat, minimal istigfar atau berzakat sesuai anjuran Nabi. Anda juga sebaiknya sekarang berfokus mengawai rekonstruksi Aceh yang hingga kini masih kembang kempis sementara pengungsi Aceh semakin didera penyakit dan masalah-masalah lain.

Semoga Tuhan menerangi setiap kata dan perbuatan kita, agar di masa depan tidak ada lagi dengki, dendam dan rasa curiga antar sesama umat beragama.

No comments: